Minggu, 29 Agustus 2010

Hikmah Lailatul Qadar

Oleh : Abd A'la

Memasuki delapan hari terakhir Ramadhan seperti saat ini, umat muslim biasanya mulai meningkatkan frekuensi dan intensitas ibadah mereka. Pada hari-hari itu, mereka kian memperbanyak shalat malam, berlama-lama dalam berdoa, dan berusaha sesering mungkin mengkhatamkan Al Quran.

Mereka melakukan semua itu dengan tujuan utama mendapatkan kebaikan perenial Lailatul Qadar; malam yang nilai kebaikannya tidak tertandingi oleh malam dan hari-hari lain. Dalam hadis Nabi dinyatakan, siapa saja yang memeriahkan malam tersebut niscaya segala dosanya di masa-masa sebelumnya akan terampuni.

Bahkan, hadis lain menyebutkan, orang yang dapat meraih rahmat Allah pada malam al-Qadar, dia akan menerima suatu kebahagiaan yang akan membuatnya tidak akan pernah menderita lagi. Wajar sekali jika umat Islam berusaha berburu malam al-Qadar dengan melaknasakan ibadah ritual sebanyak mungkin.

Lailatur Qadar, bagi Siapa?

Pengabaran hadis Nabi tersebut dipastikan kebenarannya. Apalagi, ayat-ayat Al Quran nyaris seutuhnya mendukung pernyataan tersebut. Semisal pernyataan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu yang ada di alam semesta, dan risalah Muhammad (SAW) adalah untuk menyebarkan kerahmatan.

Meski demikian, untuk memahami hadis tersebut, umat Islam tidak bisa memaknai secara sepotong-sepotong, dan disapih dari hadis yang lain. Hadis tersebut perlu disandingkan dengan hadis lain. Misalnya, ungkapan itu perlu dimaknai melalui hadis riwayat Ibnu Abbas yang menjelaskan bahwa pengampunan dan rahmat Allah hanya berlaku sepanjang orang mukmin atau orang yang beribadah itu bukanlah orang yang tidak pernah peduli terhadap lingkungan, bukan pendurhaka, bukan pendendam, dan pembenci, serta bukan orang yang suka memutus tali silaturahmi.

Atas dasar itu, tidak setiap orang yang beribadah ritual intens pada malam-malam kemungkinan turunnya Lailatul Qadar dipastikan diampuni segala dosanya, dan sekaligus mendapatkan berkah Allah. Kendati dia semalam suntuk tidak tidur melakukan ibadah ritual, tapi hatinya masih kotor, dan sikap perilakunya membuat manusia yang lain terganggu atau bahkan tersakiti, dia hampir dipastikan hanya beribadah dalam kesia-siaan. Dia bisa saja bukan memperoleh keteduhan iman sejati dalam bentuk kepengasihan dan ampunan Allah, tapi sangat mungkin hanya akan terjebak dalam keletihan fisik dan kelelahan moral.

Menyinari Kehidupan

Umat Islam tentu tidak ingin beribadah secara sia-sia. Karena itu, setiap getaran lidah dalam membaca doa dan Al Quran, dan setiap gerakan dalam melakukan ritual salat atau lainnya, khususnya di malam-malam terakhir Ramadhan agar menjadi darah segar dalam jantung keberimanan. Melalui darah segar itu, iman terus memompakan semangat keberagamaan sejati; keberagamaan yang membuat umat Islam terlindungi dan terselamatkan saat ini di alam dunia, dan nanti di alam eskatologis.

Keselamatan dan keterlindungan diri di mana pun dan kapan pun- bukan perolehan gratis yang hadir tanpa diundang, tapi muncul dari usaha keras yang mutlak dikembangkan dari diri kita masing-masing. Kita akan selamat dan terlindungi bilamana kita sebermula sekali berusaha melindungi dan berusaha menyebarkan keselamatan bagi yang lain, manusia, dan seisi alam.

Pada tataran itu, kita perlu menjadikan ibadah dalam rangka menjemput Lailatul Qadar dan di waktu-waktu yang lain sebagai dialog intens dengan Allah. Kita perlu menjadikannya sebagai penelanjangan atas kelemahan dan kesalahan diri sendiri, serta sebagai penyesalan diri atas keteledoran tersebut. Seiring itu, kita seharusnya menjadikan setiap ibadah dari menit ke menit sebagai komitmen total untuk tidak melakukan dan mengulangi kesalahan di masa-masa akan datang.

Sebagai awal yang harus dimulai saat ini juga, kita bisa berangkat dari hal-hal kecil. Ketika beribadah, terutama saat hari menjelang tengah malam, misalnya, kita perlu mempertanyakan apakah ibadah kita tidak menyakiti orang lain; apakah tetangga yang sedang beristirahat atau teman yang sedang sakit tidak terganggu dengan kelantangan bacaan doa dan tadarus kita?

Sejalan dengan hal sepele semacam itu, kita juga perlu berdialog dengan diri sendiri mengenai amanah yang kita emban sesuai peran kita masing-masing dalam ranah yang lebih luas, sosial, politik, dan aspek-aspek yang lain. Seandainya kita masih suka makan suap, korupsi, menyengsarakan rakyat, atau mengadu domba masyarakat, dan belum sepenuhnya jera dari kejahatan, kita hanya akan terjebak dalam tamanni, utopia untuk kehadiran Lailatul Qadar.

Sebaliknya, manakala saat beribadah bertekad untuk mengembangkan etika-moral di ranah publik, dan lalu diaktualisasikan ke dalam realita kehidupan, kita sangat mungkin akan meraih kebaikan seribu bulan. Selanjutnya, Lailatul Qadar akan selalu hadir sepanjang tahun, bahkan sepanjang hidup menyinari kehidupan kita. Tiada hari tanpa Lailatul Qadar.
Mudah-mudahan kita mampu merekonstruksi ibadah kita pada Ramadhan ini menjadi ibadah sejati yang terus menyinari sikap perilaku kita dari saat ke saat. Dengan demikian, puasa dan ibadah kita tidak sekadar menjadi tradisi tanpa makna, tapi akan mengantarkan kita, dan bangsa Indonesia secara keseluruhan, kepada kehidupan yang lebih baik. (*)

* Abd A'la , guru besar dan pembantu rektor 1 Bidang Akademik IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Sumber :
http://www.rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=13333&tit=RUBRIK%20JUMAT%20-%20Hikmah%20Lailatul%20Qadar
12 September 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar